Efisiensi Biaya Listrik di Industri Tekstil: Solusi Energi Surya untuk Mesin Produksi Non-Stop
Bisnis Review

Efisiensi Biaya Listrik di Industri Tekstil: Solusi Energi Surya untuk Mesin Produksi Non-Stop

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor manufaktur yang paling padat energi. Dengan karakteristik operasional mesin yang berjalan 24 jam non-stop—mulai dari spinning, weaving, hingga dyeing—biaya energi sering kali menjadi komponen biaya produksi terbesar kedua setelah bahan baku.

Di tengah persaingan global yang ketat dan fluktuasi margin keuntungan, efisiensi energi bukan lagi sekadar opsi, melainkan strategi bertahan hidup. Salah satu solusi paling efektif yang kini diadopsi oleh pemain besar industri tekstil di Jawa Tengah dan Jawa Barat adalah instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap.

Mengapa energi surya menjadi kunci efisiensi bagi pabrik dengan jam operasional tinggi? Berikut analisisnya.

Menyelaraskan Base Load dengan Energi Surya

Salah satu miskonsepsi umum adalah bahwa energi surya kurang efektif untuk pabrik yang beroperasi 24 jam karena matahari hanya bersinar di siang hari. Namun, dalam konteks efisiensi biaya (cost reduction), justru sebaliknya.

Mesin-mesin tekstil memiliki “beban dasar” (base load) yang sangat tinggi dan konstan. Instalasi plts sistem On-Grid bekerja dengan cara menyuplai energi langsung ke mesin saat matahari bersinar (pukul 07.00 – 17.00).

Artinya, pada jam-jam efektif tersebut, pabrik Anda mengurangi pengambilan listrik dari jaringan PLN secara signifikan. Energi surya akan memikul sebagian beban mesin, sehingga tagihan listrik bulanan berkurang drastis, meskipun mesin tetap beroperasi penuh di malam hari menggunakan listrik grid.

Keuntungan Finansial dan Operasional

Peralihan sebagian sumber energi ke tenaga surya menawarkan manfaat ganda bagi industri tekstil:

  1. Penghematan OPEX Signifikan: Dengan mengurangi konsumsi listrik dari grid pada siang hari, perusahaan dapat memangkas biaya operasional (OPEX) tahunan. Penghematan ini dapat dialokasikan untuk peremajaan mesin atau peningkatan kesejahteraan karyawan.
  2. Perlindungan Terhadap Kenaikan Tarif: Memiliki pembangkit mandiri berarti perusahaan memiliki kendali lebih besar terhadap biaya energi dan lebih tahan (resilient) terhadap potensi kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) industri di masa depan.
  3. Pemanfaatan Aset Pasif: Pabrik tekstil umumnya memiliki area atap gudang atau pabrik yang sangat luas. Area ini adalah aset pasif yang dapat diubah menjadi aset produktif penghasil energi tanpa memerlukan lahan tambahan.

Daya Saing di Pasar Global (Green Supply Chain)

Selain efisiensi biaya, aspek keberlanjutan (sustainability) kini menjadi syarat utama dalam rantai pasok tekstil global. Buyer internasional dari merek-merek besar (seperti Uniqlo, Adidas, H&M, dll) semakin ketat menuntut pemasok mereka untuk memiliki sertifikasi hijau atau menunjukkan upaya dekarbonisasi.

Penggunaan plts menjadi bukti konkret komitmen perusahaan terhadap praktik industri hijau. Hal ini tidak hanya meningkatkan reputasi perusahaan tetapi juga mengamankan kontrak ekspor dengan mitra global yang memprioritaskan nilai Environmental, Social, and Governance (ESG).

Kesimpulan

Bagi industri tekstil yang beroperasi dengan margin tipis dan volume tinggi, setiap persentase penghematan biaya sangatlah berharga. Integrasi energi surya ke dalam sistem kelistrikan pabrik adalah langkah strategis untuk menekan biaya produksi per unit, sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di kancah internasional.

Transisi energi bukan tentang mengganti seluruh sumber listrik Anda dalam semalam, melainkan tentang memulai langkah efisiensi yang cerdas hari ini.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *